1 Tahun Berhenti di Lampu Merah

Sebelum anda berlanjut membaca artikel ini, renungkanlah sejenak, berapa lama waktu yang terbuang dalam sepanjang hidup anda ( Termasuk akuūüôā ) ? Aku kasih contoh yang sangat sederhana, dimana kita tidak pernah menyadarinya.

Hampir setiap hari aku keluar dari rumah. Entah itu mengantar istri belanja ke pasar, belanja kebutuhan sehari-hari, ke supermarket, kadang-kadang juga beli nasi kalau hari itu tidak masak nasi, periksa kesehatan, pergi ke Surabaya untuk keperluan keluarga, pergi ke alun alun kota hanya untuk menikmati indahnya kotaku, dsb, atau keluar sendiri jika istri butuh dibelikan camilan kecil malam-malam, keperluan bayar PDAM, bayar listrik, mencucikan motor yang penuh dengan lumpur, dsb.

Jika di hitung-hitung, saat pergi dari rumah, rata-rata aku melewati minimal 4 perempatan jalan dalam satu hari, bisa sampai 7 perempatan jika yang aku tuju agak jauh dan harus memutar karena satu arah. Dan di setiap perempatan ada traffic light atau yang lebih dikenal lampu merah. Lampu merah tersebut, biasanya terdapat penghitung waktu mundur, kapan kita boleh jalan.

Sebentar, saya hitung dulu, berapa waktu yang aku perlukan untuk menunggu di lampu merah.

1. Perempatan yang pertama, 70 detik
2. Perempatan kedua, 55 detik.
3. Perempatan ketiga, 55 detik.
4. Perempatan keempat 60 detik.

Total waktu yang aku perlukan untuk berhenti menunggu lampu merah menyala menjadi hijau, adalah 240 detik atau 4 menit. Waktu 4 menit tersebut, hanya untuk berangkatnya saja. Belum pulangnya harus lewat lampu merah lagi. Jadi, waktu total yang dibutuhkan pergi pulang adalah 4 x 2 = 8 menit.

Itu kalau cuma sehari satu kali melewati 4 lampu merah tersebut. Kalau melewatinya dua kali ? Atau bahkan 3 kali ? OK lah kita rata-rata, kita melewati 4 perempatan itu sebanyak 3 kali. Itu artinya, waktu yang diperlukan untuk berhenti di lampu merah adalah 8 x 3 = 24 menit. Itu sehari, pergi pulang, sebanyak 3 kali.

Jika di hitung selama satu bulan ( 30 hari ), maka waktu tersebut bisa dikalikan 24 x 30 = 720 menit. Atau setara dengan 12 jam. Jika dikalikan selama setahun, maka menjadi 12 x 12 = 144 jam. Atau setara dengan 6 hari.

Misalkan umur kita sampai dengan 60 tahun, maka, waktu berhenti di lampu merah tersebut menjadi 6 x 60 = 360 hari. Atau setara dengan mendekati 1 tahun.

Berikut ini adalah ringkasan perhitungannya :

1. Total menit dalam sehari 240 detik = 4 menit.
2. Karena harus dihitung pulang pergi, total menit adalah 2 x 4 = 8 menit.
3. Total menit jika lewat lampu merah sebanyak 3 kali, menjadi 3 x 8 = 24 menit.
4. Total jam selama sebulan ( 30 hari ), 24 x 30 = 720 menit, atau 12 jam.
5. Total hari selama setahun, 12 x 12 = 144 jam, atau 6 hari.
6. Total tahun selam kita hidup 60 tahun, 6 x 60 = 360 hari, atau 1 tahun.

Bisa juga dikatakan, setiap lampu merah, akan menghabiskan waktu kita selama 0,0042 tahun / tahun / lampu merah 60 detik.

Jika seandainya kita melewati 10 lampu merah dengan umur 75 tahun, maka waktu yang terbuang adalah :

0.0042 x 10 x 75 = 3,5 tahun !!!

Bayangkan, 3.5 tahun hanya di lampu merah saja…

Kawan, perhitungan di atas hanyalah ilustrasi, betapa kita tidak menyadari, berapa waktu yang terbuang oleh kita. Maka, pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya…

Copi ( 16:43 )

4 comments on “1 Tahun Berhenti di Lampu Merah

  1. ilustrasinya kok lampu merah????
    Secara orang bodo kaya aku mikirnya, kalo ga nungguin lampu merah jadi ijo, trus langsung lewat tanpa permisi, yang ada bukan ngabisin waktu lagi, tapi mberhentiin waktu.

    Belum lagi nyampe usia 75 sudah almarhum karena kecelakaan lalin, lebih bodonya lagi kalo ada orang yang bilang “ni orang bego amat, niat banget mo mati…”
    sebagai orang bodo aku ngejawab “yah, aku kan ga mau membuang waktuku sia-sia di lampu merah…”, ha2….

    yang terbuang pun ternyata ga selalu sia-sia
    btw, nice post bro…..

    • Mbak Ikke,

      Ilustrasi diatas kan hanya gambaran, betapa kita tidak menyadari, begitu banyak waktu dalam hidup kita yang terbuang.

      Contoh yang lain masih banyak lagi selain menunggu di lampu merah.

      Misalkan : Orang yang selalu tidur sehari 10 jam. Itu tambah parah, soalnya kalau orang dewasa, tidur rata-rata 6 jam sudah cukup.

      Kemudian nongkrong sambil lihat sinetron di tivi berjam-jam. Kalau dipikir, ya lebih baik mengerjakan apa gitu yang lebih berguna.

      Dan saya pikir, menggunakan ilustrasi berhenti di lampu merah adalah sangat cocok, sebab, waktu untuk berhenti sangat singkat, hanya 60 detik.

      Nah, dari sedikit-sedikit waktu yang terbuang ini, akan menjadi banyak jika di akumulasikan satu demi satu.

      Bayangkan saja jika yang saya beri ilustrasi adalah waktu yg terbuang saat kita tidur molor 2 jam dari normal ? Bisa-bisa separuh hidup kita hanya untuk tidur…

      Betul begitu ?

      Salam kenal Mbak Ikke

      Copi

  2. Analisa yang bagus sof. Mungkin analogi lampu merahnya yang kurang pas. coba pakai analogi nonton TV mesti lebih mengenaūüėČ

    Btw, Berhenti di lampu merah itu wajib lho

    • Ris,

      Kalau analoginya nonton tv, pasti nanti ketahuan, kita kebanyakan waktu yang terbuang. Bisa-bisa 1/3 hidup kita buat nonton tv… Masa analoginya terlalu mencolok… ?ūüôā .

      Makanya, supaya ada semangat memperbaiki diri untuk sadar dengan waktu yang terbuang dari hidup kita, saya gunakan analogi lampu merah.

      Jika kita mengetahui bahwa waktu yang cuma 60 detik itu ternyata sangat berguna, maka seharusnya kita sadar bahwa jika kita nonton tv, itu yang lebih parah…

      Copi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s